Buruan, PayPal Bagi-bagi Duit $100 di Facebook

Friday, November 20, 2009

Bisa jadi program ini sudah ditunggu-tunggu para facebooker (sebutan untuk pengguna facebook) dan juga para blogger. Bagi mereka yang sudah menjadikan internet tempat mencari dollar, tak ada salahnya mencoba program yang satu ini. Kerja bisa secara iseng, tapi bisa menghasilkan dollar.

Tunggu apalagi, PayPal, Situs penyedia layanan pembayaran online yang paling aman dan terpercaya di internet sekarang ini memberikan kesempatan untuk anda mendapatkan US$100, hanya dengan mengajak kawan-kawan facebook anda bergabung di program PayPal wishlist. Setelah anda mendaftar, anda langsung mendapatkan $1. Setelah itu, ajaklah teman-teman anda bergabung, setiap satu orang yang mendaftar, anda akan mendapatkan $1, hingga jumlahnya mencapai angka $100.

Trus, caranya bagaimana? Gampang kok. Bagi anda yang sudah memiliki account PayPal dapat diliat langsung di sana (biasanya di sebelah kanan). Bagi yang belum punya account PayPal silahkan bisa langsung menambahkan aplikasinya dengan klik di SINI. Selanjutnya, masuk ke account Facebook anda dan masukkan Link berikut. Kemudian ajaklah teman-teman anda bergabung. Semakin banyak teman yang bergabung, angka $100 akan segera anda capai.

Oya, untuk mendaftar PayPal, anda perlu kartu kredit untuk memverifikasi account anda agar bisa digunakan untuk bertransaksi. Jika anda tidak punya dan tidak mau mendaftarkan kartu kredit, anda bisa mencoba cara gampang, bisa cek di http://www.vcc-indonesia.com atau langsung klik di sini.

Oke jangan lupa mendaftar PAYPAL WishList semoga berhasil. Jika informasi ini bermanfaat, silahkan bagi info ini ke teman-teman anda.

Read More......

Duh, Saya Terjepit

Wednesday, November 18, 2009

Hampir sebulan, saya tak pernah mengisi Blog ini lagi. Kawan-kawan yang membaca blog ini pasti mengumpat kenapa tak pernah diupdate lagi? Apakah pemiliknya sudah bosan atau sudah kehilangan ide untuk menulis? Tak ingin membuat pembaca bertambah kecewa, saya mencoba menulis tulisan (sampah) ini, semoga berkenan. Saya hanya ingin mengulang kejadian unik dan pesan di dalamnya di bulan November ini. Silahkan dibaca saja. Jika tak berkenan, anggap saja tulisan ini hanya sekedar membuat blog tetap terisi, sehingga om google selalu mengindexnya.

Di bulan November, sudah sepantasnya saya bergembira. Ada sejarah yang tercipta di bulan November ini, dan sejarah itu bukan hanya menjadi milik saya, melainkan milik orang-orang. Bagi orang Aceh, terutama yang masih punya ingatan kuat, November adalah bulan sebuah pemberontakan damai dikumandangkan. Bagi saya, November adalah bulan tanda kehidupan. Sementara bagi Indonesia, November adalah bulan untuk menghormati para pahlawan.

Lalu, apa istimewanya? Tanggal 8 November, sepuluh tahun lalu, di Masjid Raya Banda Aceh, jutaan rakyat baik laki maupun perempuan, tua-muda, ulama dan bukan ulama, semua berkumpul. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama; bahasa perjuangan. Tak henti-hentinya kata-kata itu diulang-ulang, sehingga siapa saja yang mendengar bisa merasakan aura kemarahan yang memuncak. Mereka yang berkumpul menyemut itu, menawarkan satu solusi untuk menghentikan kemarahan: referendum! Ya…mereka meminta status Aceh diputuskan, apakah bergabung atau berpisah dari Indonesia, melalui sebuah jajak pendapat yang dipantau dan diawasi lembaga internasional.

Pada tanggal 9 November, dua puluh delapan tahun yang lalu, seorang bocah lahir dan memperdengarkan tangisannya kepada dunia. Tak ada yang istimewa dari bocah itu. Kehidupannya tak lebih beruntung dari bocah yang lahir sebelum atau sesudahnya. Dia kurus. Lahir dari sebuah keluarga miskin, di mana pemasukan dan pengeluaran jauh tak seimbang. Tetapi, bocah itu terlalu baik untuk langsung mati begitu dilahirkan. Kini, dia bukan lagi bocah, tetapi sudah menjadi orang dewasa yang berusia 28 tahun.

Sementara apa yang terjadi pada 10 November. Orang-orang pasti akan mengingat peristiwa penting saat Bung Tomo mengumandangkan perlawanan sampai darah penghabisan mengusir Belanda. Arek-arek Surabaya dengan gagah berani dan pantang menyerah, berjuang mati-matian membela Indonesia yang baru diproklamirkan.

Mengikuti alur tanggal di atas, 8, 9, dan 10 November, jelas terlihat posisi laki-laki yang kini berusia 28 tahun terjepit oleh dua sikap besar dan bertolak belakang. Jika tanggal 8 November, orang-orang Aceh dengan kemarahan yang memuncak meminta cerai dari Indonesia, maka tanggal 10 November orang-orang mengingat jasa pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raga untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan. Saya sendiri tak tahu, apakah sikap saya lebih berat ke sikap 8 November atau 10 November? Saya tak tahu.

Tapi sekarang lupakan soal terjepit secara ideologis itu. Lupakan soal tanggal atau peristiwa yang mengitarinya. Saya hanya ingin bercerita, soal posisi saya yang benar-benar terjepit, sampai kawan-kawan menyebutnya ‘kado terburuk’ untuk ulang tahun saya. Sebagai pendukung Manchester United (MU), saya selalu berharap klub yang diarsiteki Alex Ferguson selalu menuai kemenangan dalam setiap laga. Tapi, sebagai orang yang percaya bola itu bulat, saya tak bisa membuat vonis bahwa klub kesayangan saya akan selalu menang. Saya harus realistis. Ada 2x45 menit yang harus dijalani untuk menentukan hasil akhir: menang atau kalah. Saya yakin, hanya klub terbaik dan memiliki teknik, kompak, serta tahu letak posisi lawanlah yang selalu keluar sebagai pemenang, di luar faktor keberuntungan atau sentuhan dewi fortuna.

Namun, kejadian pada Minggu (8/11) atau malam Senin, benar-benar (sama sekali) tak saya harapkan. Laga Manchester United vs Chelsea, jauh-jauh hari saya tunggu-tunggu. Inilah momen bagi MU untuk memuncaki klasemen sementara. Sebagai pendukung, malam itu saya bekerja seperti biasa, penuh semangat, dan ingin cepat-cepat keluar dari kantor. Dan berhasil. Saking bersemangatnya, saya menulis sebuah ‘status’ di Facebook: Red Army tahu apa yang harus dilakukan di Stamford Bridge. Tak perlu menunggu bermenit-menit, langsung ada yang memberikan tanggapan. “Jika MU kalah itu merupakan sebuah kado terburuk”. Ucapan itu cukup berbeda dengan ucapan selamat ulang tahun (terima kasih-terima kasih) yang sudah mulai mengisi wall saya.

Begitu pertandingan sudah dimulai, jantung saya berdegub cukup keras. Pasalnya, di tempat saya menonton (Jambo Kupi), orang-orang sepertinya lebih banyak mendukung Chelsea. Selalu ada teriakan, sorakan dan aplusan begitu pemain Chelsea muncul di layar. Kondisi itu begitu kontras, saat pemain MU muncul di layar, hanya ada satu dua pendukung fanatik seperti saya, yang memberi aplusan. Di situ saja saya sudah merasakan suasana terjepit.

Ada kejadian aneh, seorang yang duduk di depan saya, pria berkacamata, menoleh ke belakang dan meminta korek untuk membakar rokoknya. Sambil basa-basi, dia tanya saya pendukung mana, yang langsung saya jawab, “Kita mungkin bermusuhan!” Sepertinya dia maklum, karena saya pendukung MU dan dia pegang Chelsea. Hal itu saya tahu setiap gawang MU terancam dia selalu bertepuk tangan dan pernah sekali sampai meloncat kegirangannya.

Waktu yang tak diharapkan itu pun terjadi. Sebuah tandukang John Terry, membuat pendukung MU seperti saya bungkam dan tak percaya. Pasca gol dari kapten Chelsea itu, Hp saya tak henti-hentinya berbunyi, yang mengabarkan bahwa MU akan kalah. Hal yang sama juga terjadi di Facebook, status update saya itu sudah ramai dikomen, ada yang mendukung MU dan tak sedikit pula yang mengabarkan MU akan kalah. Waktu sepertinya begitu cepat berjalan. Doa tak lagi mempan untuk mengiringi perjuangan anak-anak Red Devils. Hasil akhirnya pun tak berubah, 1-0 untuk Chelsea. Kalah. Besoknya, koran-koran menulis, ‘MU tak pernah menang melawan tim big four.”

Read More......

Maaf, Saya Hanya Bermimpi

Saturday, October 24, 2009

Kawan-kawan, saya berharap tak marah dengan tulisan ini. Seburuk apapun sebuah tulisan, dia tetap punya hak untuk dibaca dan diberi tanggapan; baik atau buruk. Begitu juga dengan tulisan saya ini, murni hanya sebuah mimpi saya. Tak masalah jika gara-gara menulis ini saya akan dianggap sebagai ‘pungo’ (gila). Begitulah, saya tak ingin sesuatu yang saya pikirkan hanya terganjal di kepala. Saya ingin berbagi dengan orang lain, meski itu akan dianggap sebuah kegilaan.

Kegilaan saya berawal dari Pidato Pengantar RAPBN dan Nota Keuangan 2010 yang disampaikan Presiden SBY di hadapan Rapat Paripurna Luar Biasa DPR, 3 Agustus silam. Saat itu—kemudian jadi perbincangan hangat, termasuk mengenai siapa saja yang nantinya mengisi posisi basah itu—Presiden membocorkan beberapa departemen yang akan mendapatkan alokasi anggaran cukup besar, dari sebelumnya.

Di hadapan anggota dewan terhormat, Presiden menyebutkan, Departemen Pendidikan Nasional akan memperoleh anggaran (masih direncanakan) sebesar Rp51,8 triliun. Disusul Departemen Pertahanan sebesar Rp40,7 triliun, dan Departemen Umum (Rp34,3 triliun). Selain itu, Departemen Agama juga ketiban rezeki, karena akan mendapatkan Rp26,0 triliun, berikutnya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Rp25,8 triliun), Departemen Kesehatan (20,8 triliun) dan Departemen Perhubungan sebesar Rp16,0 triliun.

Saya bukan bermimpi bagaimana uang sejumlah itu masuk ke rekening saya. Apalagi bermimpi bisa menjadi salah satu anggota Kabinet biar bisa mengelola dana sebanyak itu. Sama sekali saya tak punya minat. Saya hanya anak kampung dan belum ‘boleh’ mengurusi hal-hal besar. Tapi saya tak akan mengatakannya di hadapan publik, apalagi di hadapan masyarakat sendiri, bahwa kita belum boleh mengurusi hal-hal besar.

Biarlah itu menjadi haknya sang juru bicara. Dia yang berhak mengatakannya. Hehehe.
Namun, mendengar ada dana yang cukup besar itu, pikiran saya langsung melayang ke Inggris, Spanyol, dan Italia. Apa hubungannya dana itu dengan ketiga negara yang saya sebutkan? Memang sih tak ada hubungan. Tapi coba saja kita hubung-hubungkan, biar terhubung. “Bagaimana jika beberapa Departemen itu berembuk (tentunya dengan persetujuan DPR) untuk menyisihkan beberapa triliun saja dana itu untuk membeli klub Sepakbola, apakah itu di Inggris, Spanyol atau Italia?”

Pasti ada yang bilang, itu hanya terwujud dalam mimpi. Tetapi, memiliki impian sudah lebih dari cukup daripada tidak memiliki sama sekali. Minimal kita sudah punya impian, dan orang-orang akan menilainya, apakah itu hanya akan berlalu sebagai mimpi atau akan ada orang nantinya untuk mewujudkan mimpi itu. Toh, dari buku-buku biografi tokoh-tokoh besar dunia yang bisa kita baca, semua penemuan mereka berangkat dari sebuah impian. Pada akhirnya, mereka menemukan hal-hal besar, yang sebelumnya mungkin hanya dianggap mimpi belaka.

Soal membeli klub sepakbola ini, sebelumnya sudah pernah saya tulis dalam salah satu tulisan saya di buku Aceh Pungo, dengan judul Investasi. Ide membeli klub sepakbola saya usulkan karena banyaknya dana APBA (di tempat lain dikenal APBD) yang tersisa karena minimnya serapan anggaran. Meski dana itu nantinya jadi dana SILPA, lebih bagus juga jika digunakan untuk membali klub sepakbola. Saya sempat membuka Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) dan saya baca berulang-kali. Kesimpulan saya, Pemerintah Aceh bisa membeli klub sepakbola sebagai investasi, termasuk di luar negeri. Alasan saya sederhana saja, misalnya, daripada mengurusi investor yang ‘masih’ berencana menanamkan modalnya di Aceh, lebih baik jika Pemerintah Aceh melakukan ekspansi investasi di luar negeri. Apalagi Aceh bebas melakukan kerjasama ekonomi dan investasi dengan luar negeri, seperti disebutkan dalam UU PA, yaitu “Penduduk di Aceh dapat melakukan perdagangan dan investasi secara internal dan internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” (pasal 165 ayat (1)).

Ide itu semakin masuk akal karena harga klub sepakbola juga tidak begitu mahal seperti harga Manchester City, hanya 200 juta poundsterteling (3,4 triliun). Dengan dana lebih (sisa) yang dimiliki Pemerintah Aceh mampu melakukannya, apalagi untuk ukuran dana Pemerintah Pusat, seperti sudah kita sebutkan di atas. Tentu lebih dari cukup, belum lagi jika dana itu dari hasil sharing beberapa Departemen (dengan fokus bidang hampir sama).

Harga Manchester City tentu saja lebih murah, jika dibandingkan dengan harga klub big four (sebutan untuk klub langganan empat besar seperti Manchester United, Chelsea, Liverpool dan Arsenal). Sebut saja Liverpool, yang menurut laporan Majalah Forbes harganya bernilai $1 miliar (belum termasuk utang yang dimiliki dua pemegang sahamnnya). Dengan harga senilai itu, Liverpool menjadi klub sepakbola keempat yang paling berharga di muka bumi, setelah Manchester United, Real Madrid dan Arsenal. (Harga klub sepakbola selengkapnya buka blog ini).

Trend berinvestasi klub bola sekarang ini menjadi hobby beberapa Emir Arab atau pangeran negeri kerajaan di Timur Tengah. Mereka seperti berlomba-lomba memiliki klub sepakbola. Dulu kita hanya mengenal Putra Khaddafi, penguasa Libya, yang memiliki saham di Lazio. Kini, para raja minyak di Saudi Arabi, Qatar, atau Uni Emirat Arab, berlomba-lomba memiliki klub sepakbola. Belum lekang dari ingatan kita pemindahan kepemilikan Manchester City dari Thaksin Sinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand yang terguling, ke pengusaha kaya-raya Uni Emirat Arab (Syeikh Mansur) yang tergabung dalam Abu Dhabi United Group for Development and Investment (ADUGDI) yang diwakili Sulaiman Al-Fahim. Al Fahim belakangan juga mengambil alih kepemilikan Portsmouth.

Belakangan, seperti bisa dibaca dalam sejumlah pemberitaan, Pangeran Faisal bin Fadh bin Abdullah, juga sudah menjajaki untuk mengambil alih Liverpool dari pemiliknya, Tom Hicks dan George Gillets, yang kini dililit banyak hutang yang mendekati harga klub sepakbola (senilai 245 poundsterling/$390 juta). Tak tanggung-tanggung, Pangeran Faisal dilaporkan sedang menyiapkan sebuah kesepakatan dengan nilai 350 juta poundsterling (sekitar US$560 juta). Jika dirupiahkan sekitar Rp4,9 triliun lebih atau ± setengah dari harga klub sebesar US$1 miliar (sekitar Rp9,4 triliun). Coba gunakan website ini untuk konversi nilai mata uang. Jika kesepakatan itu tercapai, berarti setengah lebih saham dari dua pemilik Liverpool akan menjadi milik Pangeran Arab.

Dalam sejumlah pemberitaan, sang Pangeran sudah memiliki rencana dengan Liverpool tentang pengaturan dan pendidikan akademi sepakbola di Arab Saudi dan Afrika Utara, jika kesepakatan itu tercapai.

Jika jejak sang Pangeran Arab ini diikuti Aceh atau Indonesia, sungguh betapa menyenangkan memiliki sebuah klub bola bergengsi di Luar Negeri. Negeri ini tak henti-hentinya disebut-sebut di luar negeri, minimal tentang pemilik klub; balik di kala sukses maupun saat terutang banyak atau terlibat masalah.

Untuk menghibur, kita hanya bisa berandai-andai, termasuk jika nantinya klub yang dibeli itu memiliki pemain hebat seperti Christiano Ronaldo yang bernilai Rp1,3 triliun, atau Kaka yang lebih kecil sedikit lagi dari harga CR9. Bayangkan saja…jika nanti bisa menjadi juara Liga atau Eropa. Untuk juara Liga Champions musim ini, berhak mendapatkan 9 juta euro atau Rp 129 miliar. Belum lagi dana dari sponsor, hak siar atau merchandise. Yang pasti berinvestasi dengan membeli klub bola merupakan bisnis yang cukup menggiurkan. Jika tak menggiurkan, tak mungkin para pengusaha Arab mau membuang-buang duit dengan membeli klub bola. Bagaimana dengan Indonesia?

*Tulisan ini hasil bergadang sambil menonton film The Sleeping Dictionary. Salam Taufik Al Mubarak

Read More......

Kompasiana dan Martabat Sebuah Blog

Tuesday, October 20, 2009

Blog kini tak hanya sebatas diary online, melainkan sudah diterima sebagai salah satu media penyampai informasi. Semakin hari, fungsi blog tak lagi bersifat pribadi dan tempat menuangkan gagasan yang sifatnya sangat personal, melainkan juga sudah merambah ranah publik. Malah, ada posting di blog, baik berupa artikel maupun foto, jika mengenai orang terkenal, langsung dikutip oleh media mainstream, seperti kejadian di Amerika soal foto Obama menggunakan baju adat Kenya. Foto itu duluan muncul di blog, kemudian dikutip media mainstream dan menjadi polemik berkepanjangan.

Dari sejumlah informasi, penggunaan blog sudah cukup melaluas di luar negeri. Malah, media-media mapan sekaliber New York Times, Washington Post, dll, sudah menggunakan blog untuk menyapa pembacanya. Mereka tak cukup mengandalkan website yang sifatnya terlalu formal. karena fenomena blog juga sedang booming.

Dunia yang serba canggih ini, membuat kita juga harus ikut aktif di dalamnya. Sebut saja dalah hal blog. Dewasa ini—kecuali di kampung-kampung—tak memiliki blog, seperti halnya tak punya email, facebook, dan twitter maka kita akan dianggap tidak melek teknologi. Kita akan divonis ketinggalan zaman.

Lalu, apa manfaat dari nge-blog? Sebuah pertanyaan yang tak sulit untuk dijawab—apalagi dengan jawaban normatif dan sangat awam. Bagi blogger, terutama yang sudah nge-blog hitungan tahun pasti akan memberikan jawaban yang provokatif, sebut saja semacam pengakuan diri—memelesetkan kata-kata Descartes—bahwa dengan aku nge-blog maka aku ada. Mereka tak hanya membagi ilmu, melainkan juga menyerap ilmu. Jiwa sosial menjadi akrab dengan kehidupan blogger. Mereka tak bosan-bosannya menulis untuk membagi pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain, seperti yang sudah dilakukan beberapa tokoh yang nge-blog di Kompasiana. Melalui blog ini mereka berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan juga belajar menjadi manusia rendah hati.

Semakin berkembang dan memiliki pengetahuan yang luas, tak lantas membuat kita menjadi lupa diri. Karena, apa yang kita tahu hari ini, sebenarnya orang lain sudah kemarin mengetahuinya. Begitulah yang berlaku di Kompasiana. Ada blogger yang menguasai suatu masalah dan menuliskannya, dan yang tidak paham masalah tersebut, dengan sendirinya menjadi paham. Blog sehat Kompasiana seperti sering disebut kawan-kawan kompasianer (sebutan untuk blogger kompasiana) sebagai rumah sehat: tempat semua pengetahuan berhimpun, dibahas, didiskusikan dan menjadi ajang pertukaran ide dan pemikiran.

Soal manfaatnya lainnya, cukup banyak, katakanlah ada blogger yang mengisi kegiatan ngeblognya dengan mencari sesuap nasi, seperti mengikuti program google adsense, atau program yang menghasilkan uang dari dunia maya, yang sudah sangat menjamur ini. Mereka yang tekun nge-blog dan menjadikannya sebagai investasi mencari dollar, tak akan malu-malu menyebut profesinya sebagai blogger. Ke depan, profesi sebagai blogger bukan lagi bahan tertawaan. Orang-orang akan memberi acungan jempol untuk para blogger ini, yang tekun dan terus menerus menulis untuk membagi pengalaman, pemikiran dan juga pengetahuan dengan orang lain. Mereka juga melayani setiap pertanyaan yang disampaikannya melalui komentar dan dijawab dengan jujur sesuai kompetensi yang dimilikinya.

Tetapi yang lebih penting—dan sudah dilakukan bung Chappy Hakim dan beberapa orang lainnya—melalui kegiatan ngeblog mereka menabung tulisan dan akhirnya berbentuk buku. Jika dulu kita berpikir bahwa menulis buku itu sulit, maka bagi blogger menulis buku itu sesuatu yang gampang. Bukan untuk membanggakan diri, buku Aceh Pungo yang saya tulis sebenarnya lahir dari kegiatan nge-blog (semua bahan untuk buku itu saya ambil dari blog meski sebelumnya sudah dimuat di koran tempat saya bekerja).

Nah, jika fungsi blog sudah sedemikian hebatnya, apa yang harus kita ragukan lagi? Bukankah blog menjadi alternatif untuk membagi informasi dengan orang-orang yang ada di belahan dunia. Karena soal kecepatan dan aktualitas, blog sudah seperti media online. Bedanya, blog dikelola sendiri-sendiri, kecuali Kompasiona, dan sindikasi blog lainnya, di mana tulisan berasal dari para anggota. Tetapi, semuanya positif, asalkan dikelola dan dimanfaatkan secara benar dan tetap.

Soal anggota blog kompasiana, tak perlu diragukan lagi. Dari blogger biasa seperti saya sampai orang-orang hebat seperti Chappy Hakim, Rahardi Ramelan, Jusuf Kalla, dan lain-lain. Kecuali itu, Kompasiana juga didukung penuh oleh induknya, Kompas (cetak dan online), di mana membuat posting-posting di blog ini bermuta dan terjamin kualitasnya. Sesekali jika tulisan kita bagus juga bisa masuk di Kompas.com. Tak salah jika kita menyebutkan, Kompasiana sebagai blog yang bermartabat.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan, selamat ulang tahun yang pertama untuk Kompasiana, semoga ke depan makin jaya, terutama menjadi pelopor blog yang bermartabat.

Read More......

Meragukan Angka-angka

Tuesday, October 13, 2009

Oleh Taufik Al Mubarak
Usia pemerintahan Irwandi-Nazar sudah mencapai 3 tahun pada Februari tahun depan. Tapi, suara-suara kekecewaan mulai muncul. Popularitas yang sebelumnya meroket, kini sedikit menurun. Semua bermuara pada satu pertanyaan, apa yang sudah berubah ketika Irwandi-Nazar berkuasa?

Pertanyaan tersebut sering ditanyakan oleh masyarakat setiap ada kesempatan, baik dalam bentuk menggelar demo maupun mengirim pesan ke media yang menyediakan rubrik SMS Pembaca. Sebagian besar dari SMS-SMS itu bernada sama, mempertanyakan soal perubahan di masa kepemimpinan Irwandi-Nazar. Bukankah belum ada perubahan apapun selama kepemimpinan Irwandi-Nazar? Apa sumbangan Irwandi-Nazar untuk rakyat Aceh yang diperjuangkannya selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan serupa masih banyak lagi, jika diinventarisir secara maksimal, apalagi dengan memantau media yang menyediakan halaman khusus untuk rubrik SMS Pemabca. Bagi kita pertanyaan warga tersebut bukanlah bentuk pesimisme mereka terhadap kepemimpinan dua tokoh rakyat Aceh ini. Sebagai rakyat yang telah memilih mereka sebagai pemimpin, sangat wajar dan tepat jika bertanya demikian. Mereka sudah memilih, dengan satu harapan adanya perubahan. Ketika perubahan yang ditunggu itu masih kabur, tentu saja rakyat akan bertanya dan terus bertanya.

Bertanya, dimaksudkan untuk mengingatkan sang pemimpin agar tak lupa pada janjinya. Meski, dari dulu hingga sekarang, janji pejabat itu tak pernah bisa dijadikan pegangan, karena kebanyakan janji dimaksudkan sebagai produk yang khusus dijual saat kampanye saja.

Rakyat yang termakan dengan janji, menginginkan agar ’janji perubahan’ itu harus diwujudkan. Dan, pertanyaan masyarakat yang terkesan ’kritis’ itu harus dilihat sebagai bentuk interupsi agar pemimpin yang dipilihnya tak terlena dengan berbagai kebijakan populis, tapi lupa penguatan ke dalam. Selama ini, kesan yang ditangkap adalah pemimpin Aceh itu sukses melakukan gebrakan dengan berbagai pernyataan dan program, tetapi kurang matang dalam perencanaan, sehingga menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Sejumlah niat pemerintah Aceh sungguh mulia dengan program ”peumakmu nanggroe”,”Moratorium logging”, Aceh Green dan menghadirkan sejumlah investor ke Aceh. Tapi, semua itu tak cukup dengan sekedar launching atau pernyataan di media, teken kontrak, dan setelah itu tak terdengar aap-apa lagi. Program-program itu butuh planning yang matang. Sebab, ketika tak ada planning yang matang, kebijakan itu hanyalah berbentuk pernyataan populis saja, tetapi kehilangan makna aktualnya.

Kita akui juga, Irwandi-Nazar termasuk orang yang berani dengan ide-ide brilian. Dan memang, Aceh hari ini butuh pemimpin berani seperti mereka. Soal kredibilitas, kedua orang ini sudah tak diragukan. Tetapi, modal keberanian juga belum cukup. Mereka, butuh kemampuan tak hanya kemampuan personal, tetapi kemampuan menghargai orang lain.

Kesan yang tertangkap ke publik (di sejumlah kabupaten juga mengalami hal sama), Irwandi seperti berjalan sendiri, dan terlalu percaya diri dengan kemampuan dirinya. Padahal, Irwandi sendiri plus Nazar tak mungkin membangun Aceh hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Irwandi-Nazar butuh tim yang kuat, yang tentu saja tahu dan mengerti visi dan misi Irwandi. Karenanya, peran tim sukses tak sekedar bertujuan mengantarkan keduanya ke kursi kepala dan wakil kepala pemerintahan Aceh, melainkan juga memastikan visi dan misi berjalan pada real yang benar. Hanya tim sukses saja, yang tahu mana program yang benar-benar bisa diwujudkan dan mana program yang sekedar untuk dijual dalam kampanye.

Kini, di usia pemerintahan yang sudah senja, ada kewajiban besar di pundak Irwandi-Nazar, yaitu mewujudkan kesejahteran dan kemakmuran (prosperity) bagi rakyat Aceh. Kemakmuran, sering disebut sebagai keadaan di mana kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan wajar secara mantap dan terus menerus. Pertanyaan kemudian, sudahkah berbagai kebutuhan masyarakat terpenuhi?

Jika pertanyaan itu muncul jawaban ”ya”, muncul pertanyaan susulan, sudahkah rakyat Aceh makmur dan sejahtera? Jawabannya, bisa beragam. Apalagi, banyak dari mereka sudah bekerja di NGO asing dengan gaji yang besar. Tapi itu hanyalah fenomena sesaat. Karen belakangan ini, NGO Internasional pada angkat kaki keluar Aceh. Keberadaan BRR yang dulunya sempat dipandang sebagai lumbung uang, juga sudah lama berakhir mandatnya. Banyak ’alumni’ BRR diyakini menjadi pengangguran dan mencoba mencari kesibukan di tempat lain.

Kita tak perlu heran, jika angka pengangguran di Aceh meningkat. Karena itu konsekuensi logis dari sebuah masa transisi. Yang justru disayangkan—mungkin belum terlambat untuk dibenahi—adalah nasib rakyat yang menjadi korban, baik tsunami maupun konflik. Hingga kini mereka masih menderita. Itu kenyataan yang dihadapi sekarang.

Kita mungkin bisa sedikit bergembira dengan salah satu laporan yang pernah dibuat World Bank, bahwa angka kemiskinan di Aceh menurun pascatsunami dan konflik hingga ke titik 26,5% pada 2006. Tetapi, jangan lupa, pasca tahun 2004, angka tersebut pernah mengalami peningkatan hingga 32,6% pada 2005, dari angka 28,4 % tahun 2004.

Sementara dalam catatan Bappeda, menyebutkan, kemiskinan di Aceh sebagian besar merupakan fenomena pedesaan, dengan lebih dari 30 persen rumah tangga di pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat rumah tangga miskin di wilayah perkotaan yang kurang dari 15%.

Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, dalam suatu kesempatan saat penyerahan dana bantuan rehab rumah untuk fakir miskin di Aceh Besar, pernah mengatakan, bahwa selama tiga tahun usia pemerintahannya, angka kemiskinan menurun drastis dari 30% menjadi 20% saja. Malah, katanya, angka tersebut bisa lebih kecil lagi, andai saja masyarakat yang didata oleh BPS menjawab jujur setiap pertanyaan yang diajukan petugas pendataan.

Kita mungkin akan mengatakan bahwa data-data itu menjadi tak bermakna saat kita menyambangi kampung-kampung yang jauh di pedalaman atau di pinggiran kota. Penghasilan dalam satu bulan tak pernah mencapai angka Rp100 ribu. Mereka hanya hidup dari hasil pertanian, yang kini bisa dua kali tanam dalam setahun. Bagi mereka, uang Rp1000 sudah cukup berharga, karena bisa menikmati segelas kopi. Coba bandingkan dengan gaya hidup di kota, saat angka Rp100 ribu tak lagi bermakna. Seorang pekerja NGO yang ngopi bareng teman, sekali minum kopi di warung seperti Solong, Dhapu Kupi, Dekmie, Taufik Kupi dan sejumlah warung yang ’mendadak’ tenar bisa hingga Rp300 ribu.

Kenyataan itu, sama seperti bait lagu Deddy Dorres, ”yang kaya tertawa, berpesta pora.” Sementara yang miskin, seperti kata Bang Joni dalam salah satu penggalan di film Empang Breueh, ”...Nyang gasien meukuwien lam tika.”

Parade kemakmuran, nyatanya tak tersentuh sedikitpun untuk rakyat. Rakyat masih saja berkutat dengan penderitaan, apalagi ketika biaya hidup kian mahal. Elite politik, pekerja NGO, dan para kontraktor boleh saja mewah berselemak dengan harta yang melimpah, mobil mewah dan rumah-rumah gede, tapi rakyat, untuk membeli minyak goreng saja masih sulit.

Jika rakyat mengungkapkan kekecewaan, jangan dipahami sebagai bentuk kebencian, apalagi sebagai ancaman. Pertanyaan rakyat—yang bernada kritis—jangan dipahami sebagai ancaman terhadap legitimasi kekuasaan. Dan pemerintah tak perlu alergi dengan sejumlah pertanyaan itu, meski tak enak untuk didengar.

Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dengan kepemimpinan Irwandi-Nazar? Jawabannya tak lain adalah para spekulan dan oportunis yang selama ini selalu bermain dengan dua wajah. Mereka yang selama ini pandai bermain dalam irama apa saja tergantung arah politik. Bahkan, dengan modal uang mereka mampu menyelamatkan diri, meski pernah mengambil sikap politik berbeda. Sementara rakyat yang selama ini bahu membahu membantu Irwandi-Nazar ’hanya’ menjadi penonton.

Dalam satu kesempatan, Irwandi pernah menyatakan, bahwa yang menjadi kawannya saat berkuasa adalah orang yang ketika sakit bersamanya. Kini, ingatkah Irwandi atas pernyataannya itu?

Sebelum jauh melangkah, kita ingatkan bahwa perjalanan masih jauh, kita butuh pendukung yang lebih ramai untuk menyongsong masa depan. Beban yang ada tak cukup dipikul oleh satu-dua orang saja. Beban itu perlu dipikul oleh orang ramai. Jika tidak, kita tak bisa melakukan apapun, betapapun cerdas dan jeniusnya kita.

Kita hanya ingin ingatkan, janganlah berpuas diri dengan segenggam kekuasaan yang tak permanen itu. Seolah-olah, kekuasaan adalah segala-galanya. Karena, jika dengan kekuasaan itu membuat kita berpuas diri, dan bahkan lupa daratan, menjadi benarlah apa yang sering diingatkan oleh indatu kita, lagee si buntong meurumpok jaroe.

Taufik Al Mubarak, penulis buku Aceh Pungo

Read More......