Maaf, Saya Hanya Bermimpi

Saturday, October 24, 2009

Kawan-kawan, saya berharap tak marah dengan tulisan ini. Seburuk apapun sebuah tulisan, dia tetap punya hak untuk dibaca dan diberi tanggapan; baik atau buruk. Begitu juga dengan tulisan saya ini, murni hanya sebuah mimpi saya. Tak masalah jika gara-gara menulis ini saya akan dianggap sebagai ‘pungo’ (gila). Begitulah, saya tak ingin sesuatu yang saya pikirkan hanya terganjal di kepala. Saya ingin berbagi dengan orang lain, meski itu akan dianggap sebuah kegilaan.

Kegilaan saya berawal dari Pidato Pengantar RAPBN dan Nota Keuangan 2010 yang disampaikan Presiden SBY di hadapan Rapat Paripurna Luar Biasa DPR, 3 Agustus silam. Saat itu—kemudian jadi perbincangan hangat, termasuk mengenai siapa saja yang nantinya mengisi posisi basah itu—Presiden membocorkan beberapa departemen yang akan mendapatkan alokasi anggaran cukup besar, dari sebelumnya.

Di hadapan anggota dewan terhormat, Presiden menyebutkan, Departemen Pendidikan Nasional akan memperoleh anggaran (masih direncanakan) sebesar Rp51,8 triliun. Disusul Departemen Pertahanan sebesar Rp40,7 triliun, dan Departemen Umum (Rp34,3 triliun). Selain itu, Departemen Agama juga ketiban rezeki, karena akan mendapatkan Rp26,0 triliun, berikutnya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Rp25,8 triliun), Departemen Kesehatan (20,8 triliun) dan Departemen Perhubungan sebesar Rp16,0 triliun.

Saya bukan bermimpi bagaimana uang sejumlah itu masuk ke rekening saya. Apalagi bermimpi bisa menjadi salah satu anggota Kabinet biar bisa mengelola dana sebanyak itu. Sama sekali saya tak punya minat. Saya hanya anak kampung dan belum ‘boleh’ mengurusi hal-hal besar. Tapi saya tak akan mengatakannya di hadapan publik, apalagi di hadapan masyarakat sendiri, bahwa kita belum boleh mengurusi hal-hal besar.

Biarlah itu menjadi haknya sang juru bicara. Dia yang berhak mengatakannya. Hehehe.
Namun, mendengar ada dana yang cukup besar itu, pikiran saya langsung melayang ke Inggris, Spanyol, dan Italia. Apa hubungannya dana itu dengan ketiga negara yang saya sebutkan? Memang sih tak ada hubungan. Tapi coba saja kita hubung-hubungkan, biar terhubung. “Bagaimana jika beberapa Departemen itu berembuk (tentunya dengan persetujuan DPR) untuk menyisihkan beberapa triliun saja dana itu untuk membeli klub Sepakbola, apakah itu di Inggris, Spanyol atau Italia?”

Pasti ada yang bilang, itu hanya terwujud dalam mimpi. Tetapi, memiliki impian sudah lebih dari cukup daripada tidak memiliki sama sekali. Minimal kita sudah punya impian, dan orang-orang akan menilainya, apakah itu hanya akan berlalu sebagai mimpi atau akan ada orang nantinya untuk mewujudkan mimpi itu. Toh, dari buku-buku biografi tokoh-tokoh besar dunia yang bisa kita baca, semua penemuan mereka berangkat dari sebuah impian. Pada akhirnya, mereka menemukan hal-hal besar, yang sebelumnya mungkin hanya dianggap mimpi belaka.

Soal membeli klub sepakbola ini, sebelumnya sudah pernah saya tulis dalam salah satu tulisan saya di buku Aceh Pungo, dengan judul Investasi. Ide membeli klub sepakbola saya usulkan karena banyaknya dana APBA (di tempat lain dikenal APBD) yang tersisa karena minimnya serapan anggaran. Meski dana itu nantinya jadi dana SILPA, lebih bagus juga jika digunakan untuk membali klub sepakbola. Saya sempat membuka Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) dan saya baca berulang-kali. Kesimpulan saya, Pemerintah Aceh bisa membeli klub sepakbola sebagai investasi, termasuk di luar negeri. Alasan saya sederhana saja, misalnya, daripada mengurusi investor yang ‘masih’ berencana menanamkan modalnya di Aceh, lebih baik jika Pemerintah Aceh melakukan ekspansi investasi di luar negeri. Apalagi Aceh bebas melakukan kerjasama ekonomi dan investasi dengan luar negeri, seperti disebutkan dalam UU PA, yaitu “Penduduk di Aceh dapat melakukan perdagangan dan investasi secara internal dan internasional sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” (pasal 165 ayat (1)).

Ide itu semakin masuk akal karena harga klub sepakbola juga tidak begitu mahal seperti harga Manchester City, hanya 200 juta poundsterteling (3,4 triliun). Dengan dana lebih (sisa) yang dimiliki Pemerintah Aceh mampu melakukannya, apalagi untuk ukuran dana Pemerintah Pusat, seperti sudah kita sebutkan di atas. Tentu lebih dari cukup, belum lagi jika dana itu dari hasil sharing beberapa Departemen (dengan fokus bidang hampir sama).

Harga Manchester City tentu saja lebih murah, jika dibandingkan dengan harga klub big four (sebutan untuk klub langganan empat besar seperti Manchester United, Chelsea, Liverpool dan Arsenal). Sebut saja Liverpool, yang menurut laporan Majalah Forbes harganya bernilai $1 miliar (belum termasuk utang yang dimiliki dua pemegang sahamnnya). Dengan harga senilai itu, Liverpool menjadi klub sepakbola keempat yang paling berharga di muka bumi, setelah Manchester United, Real Madrid dan Arsenal. (Harga klub sepakbola selengkapnya buka blog ini).

Trend berinvestasi klub bola sekarang ini menjadi hobby beberapa Emir Arab atau pangeran negeri kerajaan di Timur Tengah. Mereka seperti berlomba-lomba memiliki klub sepakbola. Dulu kita hanya mengenal Putra Khaddafi, penguasa Libya, yang memiliki saham di Lazio. Kini, para raja minyak di Saudi Arabi, Qatar, atau Uni Emirat Arab, berlomba-lomba memiliki klub sepakbola. Belum lekang dari ingatan kita pemindahan kepemilikan Manchester City dari Thaksin Sinawatra, mantan Perdana Menteri Thailand yang terguling, ke pengusaha kaya-raya Uni Emirat Arab (Syeikh Mansur) yang tergabung dalam Abu Dhabi United Group for Development and Investment (ADUGDI) yang diwakili Sulaiman Al-Fahim. Al Fahim belakangan juga mengambil alih kepemilikan Portsmouth.

Belakangan, seperti bisa dibaca dalam sejumlah pemberitaan, Pangeran Faisal bin Fadh bin Abdullah, juga sudah menjajaki untuk mengambil alih Liverpool dari pemiliknya, Tom Hicks dan George Gillets, yang kini dililit banyak hutang yang mendekati harga klub sepakbola (senilai 245 poundsterling/$390 juta). Tak tanggung-tanggung, Pangeran Faisal dilaporkan sedang menyiapkan sebuah kesepakatan dengan nilai 350 juta poundsterling (sekitar US$560 juta). Jika dirupiahkan sekitar Rp4,9 triliun lebih atau ± setengah dari harga klub sebesar US$1 miliar (sekitar Rp9,4 triliun). Coba gunakan website ini untuk konversi nilai mata uang. Jika kesepakatan itu tercapai, berarti setengah lebih saham dari dua pemilik Liverpool akan menjadi milik Pangeran Arab.

Dalam sejumlah pemberitaan, sang Pangeran sudah memiliki rencana dengan Liverpool tentang pengaturan dan pendidikan akademi sepakbola di Arab Saudi dan Afrika Utara, jika kesepakatan itu tercapai.

Jika jejak sang Pangeran Arab ini diikuti Aceh atau Indonesia, sungguh betapa menyenangkan memiliki sebuah klub bola bergengsi di Luar Negeri. Negeri ini tak henti-hentinya disebut-sebut di luar negeri, minimal tentang pemilik klub; balik di kala sukses maupun saat terutang banyak atau terlibat masalah.

Untuk menghibur, kita hanya bisa berandai-andai, termasuk jika nantinya klub yang dibeli itu memiliki pemain hebat seperti Christiano Ronaldo yang bernilai Rp1,3 triliun, atau Kaka yang lebih kecil sedikit lagi dari harga CR9. Bayangkan saja…jika nanti bisa menjadi juara Liga atau Eropa. Untuk juara Liga Champions musim ini, berhak mendapatkan 9 juta euro atau Rp 129 miliar. Belum lagi dana dari sponsor, hak siar atau merchandise. Yang pasti berinvestasi dengan membeli klub bola merupakan bisnis yang cukup menggiurkan. Jika tak menggiurkan, tak mungkin para pengusaha Arab mau membuang-buang duit dengan membeli klub bola. Bagaimana dengan Indonesia?

*Tulisan ini hasil bergadang sambil menonton film The Sleeping Dictionary. Salam Taufik Al Mubarak

Read More......

Kompasiana dan Martabat Sebuah Blog

Tuesday, October 20, 2009

Blog kini tak hanya sebatas diary online, melainkan sudah diterima sebagai salah satu media penyampai informasi. Semakin hari, fungsi blog tak lagi bersifat pribadi dan tempat menuangkan gagasan yang sifatnya sangat personal, melainkan juga sudah merambah ranah publik. Malah, ada posting di blog, baik berupa artikel maupun foto, jika mengenai orang terkenal, langsung dikutip oleh media mainstream, seperti kejadian di Amerika soal foto Obama menggunakan baju adat Kenya. Foto itu duluan muncul di blog, kemudian dikutip media mainstream dan menjadi polemik berkepanjangan.

Dari sejumlah informasi, penggunaan blog sudah cukup melaluas di luar negeri. Malah, media-media mapan sekaliber New York Times, Washington Post, dll, sudah menggunakan blog untuk menyapa pembacanya. Mereka tak cukup mengandalkan website yang sifatnya terlalu formal. karena fenomena blog juga sedang booming.

Dunia yang serba canggih ini, membuat kita juga harus ikut aktif di dalamnya. Sebut saja dalah hal blog. Dewasa ini—kecuali di kampung-kampung—tak memiliki blog, seperti halnya tak punya email, facebook, dan twitter maka kita akan dianggap tidak melek teknologi. Kita akan divonis ketinggalan zaman.

Lalu, apa manfaat dari nge-blog? Sebuah pertanyaan yang tak sulit untuk dijawab—apalagi dengan jawaban normatif dan sangat awam. Bagi blogger, terutama yang sudah nge-blog hitungan tahun pasti akan memberikan jawaban yang provokatif, sebut saja semacam pengakuan diri—memelesetkan kata-kata Descartes—bahwa dengan aku nge-blog maka aku ada. Mereka tak hanya membagi ilmu, melainkan juga menyerap ilmu. Jiwa sosial menjadi akrab dengan kehidupan blogger. Mereka tak bosan-bosannya menulis untuk membagi pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain, seperti yang sudah dilakukan beberapa tokoh yang nge-blog di Kompasiana. Melalui blog ini mereka berdiskusi, berbagi pengetahuan, dan juga belajar menjadi manusia rendah hati.

Semakin berkembang dan memiliki pengetahuan yang luas, tak lantas membuat kita menjadi lupa diri. Karena, apa yang kita tahu hari ini, sebenarnya orang lain sudah kemarin mengetahuinya. Begitulah yang berlaku di Kompasiana. Ada blogger yang menguasai suatu masalah dan menuliskannya, dan yang tidak paham masalah tersebut, dengan sendirinya menjadi paham. Blog sehat Kompasiana seperti sering disebut kawan-kawan kompasianer (sebutan untuk blogger kompasiana) sebagai rumah sehat: tempat semua pengetahuan berhimpun, dibahas, didiskusikan dan menjadi ajang pertukaran ide dan pemikiran.

Soal manfaatnya lainnya, cukup banyak, katakanlah ada blogger yang mengisi kegiatan ngeblognya dengan mencari sesuap nasi, seperti mengikuti program google adsense, atau program yang menghasilkan uang dari dunia maya, yang sudah sangat menjamur ini. Mereka yang tekun nge-blog dan menjadikannya sebagai investasi mencari dollar, tak akan malu-malu menyebut profesinya sebagai blogger. Ke depan, profesi sebagai blogger bukan lagi bahan tertawaan. Orang-orang akan memberi acungan jempol untuk para blogger ini, yang tekun dan terus menerus menulis untuk membagi pengalaman, pemikiran dan juga pengetahuan dengan orang lain. Mereka juga melayani setiap pertanyaan yang disampaikannya melalui komentar dan dijawab dengan jujur sesuai kompetensi yang dimilikinya.

Tetapi yang lebih penting—dan sudah dilakukan bung Chappy Hakim dan beberapa orang lainnya—melalui kegiatan ngeblog mereka menabung tulisan dan akhirnya berbentuk buku. Jika dulu kita berpikir bahwa menulis buku itu sulit, maka bagi blogger menulis buku itu sesuatu yang gampang. Bukan untuk membanggakan diri, buku Aceh Pungo yang saya tulis sebenarnya lahir dari kegiatan nge-blog (semua bahan untuk buku itu saya ambil dari blog meski sebelumnya sudah dimuat di koran tempat saya bekerja).

Nah, jika fungsi blog sudah sedemikian hebatnya, apa yang harus kita ragukan lagi? Bukankah blog menjadi alternatif untuk membagi informasi dengan orang-orang yang ada di belahan dunia. Karena soal kecepatan dan aktualitas, blog sudah seperti media online. Bedanya, blog dikelola sendiri-sendiri, kecuali Kompasiona, dan sindikasi blog lainnya, di mana tulisan berasal dari para anggota. Tetapi, semuanya positif, asalkan dikelola dan dimanfaatkan secara benar dan tetap.

Soal anggota blog kompasiana, tak perlu diragukan lagi. Dari blogger biasa seperti saya sampai orang-orang hebat seperti Chappy Hakim, Rahardi Ramelan, Jusuf Kalla, dan lain-lain. Kecuali itu, Kompasiana juga didukung penuh oleh induknya, Kompas (cetak dan online), di mana membuat posting-posting di blog ini bermuta dan terjamin kualitasnya. Sesekali jika tulisan kita bagus juga bisa masuk di Kompas.com. Tak salah jika kita menyebutkan, Kompasiana sebagai blog yang bermartabat.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan, selamat ulang tahun yang pertama untuk Kompasiana, semoga ke depan makin jaya, terutama menjadi pelopor blog yang bermartabat.

Read More......

Meragukan Angka-angka

Tuesday, October 13, 2009

Oleh Taufik Al Mubarak
Usia pemerintahan Irwandi-Nazar sudah mencapai 3 tahun pada Februari tahun depan. Tapi, suara-suara kekecewaan mulai muncul. Popularitas yang sebelumnya meroket, kini sedikit menurun. Semua bermuara pada satu pertanyaan, apa yang sudah berubah ketika Irwandi-Nazar berkuasa?

Pertanyaan tersebut sering ditanyakan oleh masyarakat setiap ada kesempatan, baik dalam bentuk menggelar demo maupun mengirim pesan ke media yang menyediakan rubrik SMS Pembaca. Sebagian besar dari SMS-SMS itu bernada sama, mempertanyakan soal perubahan di masa kepemimpinan Irwandi-Nazar. Bukankah belum ada perubahan apapun selama kepemimpinan Irwandi-Nazar? Apa sumbangan Irwandi-Nazar untuk rakyat Aceh yang diperjuangkannya selama ini?

Pertanyaan-pertanyaan serupa masih banyak lagi, jika diinventarisir secara maksimal, apalagi dengan memantau media yang menyediakan halaman khusus untuk rubrik SMS Pemabca. Bagi kita pertanyaan warga tersebut bukanlah bentuk pesimisme mereka terhadap kepemimpinan dua tokoh rakyat Aceh ini. Sebagai rakyat yang telah memilih mereka sebagai pemimpin, sangat wajar dan tepat jika bertanya demikian. Mereka sudah memilih, dengan satu harapan adanya perubahan. Ketika perubahan yang ditunggu itu masih kabur, tentu saja rakyat akan bertanya dan terus bertanya.

Bertanya, dimaksudkan untuk mengingatkan sang pemimpin agar tak lupa pada janjinya. Meski, dari dulu hingga sekarang, janji pejabat itu tak pernah bisa dijadikan pegangan, karena kebanyakan janji dimaksudkan sebagai produk yang khusus dijual saat kampanye saja.

Rakyat yang termakan dengan janji, menginginkan agar ’janji perubahan’ itu harus diwujudkan. Dan, pertanyaan masyarakat yang terkesan ’kritis’ itu harus dilihat sebagai bentuk interupsi agar pemimpin yang dipilihnya tak terlena dengan berbagai kebijakan populis, tapi lupa penguatan ke dalam. Selama ini, kesan yang ditangkap adalah pemimpin Aceh itu sukses melakukan gebrakan dengan berbagai pernyataan dan program, tetapi kurang matang dalam perencanaan, sehingga menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Sejumlah niat pemerintah Aceh sungguh mulia dengan program ”peumakmu nanggroe”,”Moratorium logging”, Aceh Green dan menghadirkan sejumlah investor ke Aceh. Tapi, semua itu tak cukup dengan sekedar launching atau pernyataan di media, teken kontrak, dan setelah itu tak terdengar aap-apa lagi. Program-program itu butuh planning yang matang. Sebab, ketika tak ada planning yang matang, kebijakan itu hanyalah berbentuk pernyataan populis saja, tetapi kehilangan makna aktualnya.

Kita akui juga, Irwandi-Nazar termasuk orang yang berani dengan ide-ide brilian. Dan memang, Aceh hari ini butuh pemimpin berani seperti mereka. Soal kredibilitas, kedua orang ini sudah tak diragukan. Tetapi, modal keberanian juga belum cukup. Mereka, butuh kemampuan tak hanya kemampuan personal, tetapi kemampuan menghargai orang lain.

Kesan yang tertangkap ke publik (di sejumlah kabupaten juga mengalami hal sama), Irwandi seperti berjalan sendiri, dan terlalu percaya diri dengan kemampuan dirinya. Padahal, Irwandi sendiri plus Nazar tak mungkin membangun Aceh hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Irwandi-Nazar butuh tim yang kuat, yang tentu saja tahu dan mengerti visi dan misi Irwandi. Karenanya, peran tim sukses tak sekedar bertujuan mengantarkan keduanya ke kursi kepala dan wakil kepala pemerintahan Aceh, melainkan juga memastikan visi dan misi berjalan pada real yang benar. Hanya tim sukses saja, yang tahu mana program yang benar-benar bisa diwujudkan dan mana program yang sekedar untuk dijual dalam kampanye.

Kini, di usia pemerintahan yang sudah senja, ada kewajiban besar di pundak Irwandi-Nazar, yaitu mewujudkan kesejahteran dan kemakmuran (prosperity) bagi rakyat Aceh. Kemakmuran, sering disebut sebagai keadaan di mana kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan wajar secara mantap dan terus menerus. Pertanyaan kemudian, sudahkah berbagai kebutuhan masyarakat terpenuhi?

Jika pertanyaan itu muncul jawaban ”ya”, muncul pertanyaan susulan, sudahkah rakyat Aceh makmur dan sejahtera? Jawabannya, bisa beragam. Apalagi, banyak dari mereka sudah bekerja di NGO asing dengan gaji yang besar. Tapi itu hanyalah fenomena sesaat. Karen belakangan ini, NGO Internasional pada angkat kaki keluar Aceh. Keberadaan BRR yang dulunya sempat dipandang sebagai lumbung uang, juga sudah lama berakhir mandatnya. Banyak ’alumni’ BRR diyakini menjadi pengangguran dan mencoba mencari kesibukan di tempat lain.

Kita tak perlu heran, jika angka pengangguran di Aceh meningkat. Karena itu konsekuensi logis dari sebuah masa transisi. Yang justru disayangkan—mungkin belum terlambat untuk dibenahi—adalah nasib rakyat yang menjadi korban, baik tsunami maupun konflik. Hingga kini mereka masih menderita. Itu kenyataan yang dihadapi sekarang.

Kita mungkin bisa sedikit bergembira dengan salah satu laporan yang pernah dibuat World Bank, bahwa angka kemiskinan di Aceh menurun pascatsunami dan konflik hingga ke titik 26,5% pada 2006. Tetapi, jangan lupa, pasca tahun 2004, angka tersebut pernah mengalami peningkatan hingga 32,6% pada 2005, dari angka 28,4 % tahun 2004.

Sementara dalam catatan Bappeda, menyebutkan, kemiskinan di Aceh sebagian besar merupakan fenomena pedesaan, dengan lebih dari 30 persen rumah tangga di pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini lebih besar jika dibandingkan dengan tingkat rumah tangga miskin di wilayah perkotaan yang kurang dari 15%.

Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, dalam suatu kesempatan saat penyerahan dana bantuan rehab rumah untuk fakir miskin di Aceh Besar, pernah mengatakan, bahwa selama tiga tahun usia pemerintahannya, angka kemiskinan menurun drastis dari 30% menjadi 20% saja. Malah, katanya, angka tersebut bisa lebih kecil lagi, andai saja masyarakat yang didata oleh BPS menjawab jujur setiap pertanyaan yang diajukan petugas pendataan.

Kita mungkin akan mengatakan bahwa data-data itu menjadi tak bermakna saat kita menyambangi kampung-kampung yang jauh di pedalaman atau di pinggiran kota. Penghasilan dalam satu bulan tak pernah mencapai angka Rp100 ribu. Mereka hanya hidup dari hasil pertanian, yang kini bisa dua kali tanam dalam setahun. Bagi mereka, uang Rp1000 sudah cukup berharga, karena bisa menikmati segelas kopi. Coba bandingkan dengan gaya hidup di kota, saat angka Rp100 ribu tak lagi bermakna. Seorang pekerja NGO yang ngopi bareng teman, sekali minum kopi di warung seperti Solong, Dhapu Kupi, Dekmie, Taufik Kupi dan sejumlah warung yang ’mendadak’ tenar bisa hingga Rp300 ribu.

Kenyataan itu, sama seperti bait lagu Deddy Dorres, ”yang kaya tertawa, berpesta pora.” Sementara yang miskin, seperti kata Bang Joni dalam salah satu penggalan di film Empang Breueh, ”...Nyang gasien meukuwien lam tika.”

Parade kemakmuran, nyatanya tak tersentuh sedikitpun untuk rakyat. Rakyat masih saja berkutat dengan penderitaan, apalagi ketika biaya hidup kian mahal. Elite politik, pekerja NGO, dan para kontraktor boleh saja mewah berselemak dengan harta yang melimpah, mobil mewah dan rumah-rumah gede, tapi rakyat, untuk membeli minyak goreng saja masih sulit.

Jika rakyat mengungkapkan kekecewaan, jangan dipahami sebagai bentuk kebencian, apalagi sebagai ancaman. Pertanyaan rakyat—yang bernada kritis—jangan dipahami sebagai ancaman terhadap legitimasi kekuasaan. Dan pemerintah tak perlu alergi dengan sejumlah pertanyaan itu, meski tak enak untuk didengar.

Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dengan kepemimpinan Irwandi-Nazar? Jawabannya tak lain adalah para spekulan dan oportunis yang selama ini selalu bermain dengan dua wajah. Mereka yang selama ini pandai bermain dalam irama apa saja tergantung arah politik. Bahkan, dengan modal uang mereka mampu menyelamatkan diri, meski pernah mengambil sikap politik berbeda. Sementara rakyat yang selama ini bahu membahu membantu Irwandi-Nazar ’hanya’ menjadi penonton.

Dalam satu kesempatan, Irwandi pernah menyatakan, bahwa yang menjadi kawannya saat berkuasa adalah orang yang ketika sakit bersamanya. Kini, ingatkah Irwandi atas pernyataannya itu?

Sebelum jauh melangkah, kita ingatkan bahwa perjalanan masih jauh, kita butuh pendukung yang lebih ramai untuk menyongsong masa depan. Beban yang ada tak cukup dipikul oleh satu-dua orang saja. Beban itu perlu dipikul oleh orang ramai. Jika tidak, kita tak bisa melakukan apapun, betapapun cerdas dan jeniusnya kita.

Kita hanya ingin ingatkan, janganlah berpuas diri dengan segenggam kekuasaan yang tak permanen itu. Seolah-olah, kekuasaan adalah segala-galanya. Karena, jika dengan kekuasaan itu membuat kita berpuas diri, dan bahkan lupa daratan, menjadi benarlah apa yang sering diingatkan oleh indatu kita, lagee si buntong meurumpok jaroe.

Taufik Al Mubarak, penulis buku Aceh Pungo

Read More......

Menanti Qory Sandrioriva Memakai Bikini

Saturday, October 10, 2009

Gadis Aceh jadi Putri Indonesia? Ini berita bagus. Saya sendiri hampir tak percaya, putri Indonesia bisa mencuri hati dewan juri dan memilihnya jadi Putri Indonesia 2009. Sama halnya seperti kita bermimpi ada Putri Indonesia yang jadi Miss Universe.
Apa boleh dikata, dalam malam puncak Pemilihan Putri Indonesia (PPI) 2009 di TMII, Jakarta, Sabtu (10/10) dinihari, Qory Sandrioriva, gadis kelahiran Aceh terpilih sebagai Putri Indonesia 2009.

Sementara ini belum muncul wacana dan protes dari sejumlah kalangan di Aceh, terutama kebiasaan Qory yang tidak memakai jilbab. Tapi, polemik bakal mencuat saat pemilihan Miss Universe digelar tahun depan. Apalagi kalau bukan soal Bikini. Semua orang sudah tahu, bahwa menggunakan Bikini menjadi wacana yang sempat membikin heboh jagad tanah air. Sejak dulu, saat Alya Rohali hingga Zivanna Letisha Siregar beberapa bulan lalu, soal Bikini membikin geger tanah air. Ada yang pro dan tak sedikit yang menolak.

Qory (18 tahun) sendiri tercatat mahasiswi semester 1 jurusan Sastra Inggris, Universitas Indonesia. Qory mengalahkan dua finalis Putri Indonesia lainnya, yaitu Zukhriatul Hafizah dari Sumatra Barat dan Isti Ayu Pratiwi dari Maluku Utara.
Zukhriatul Hafizah sendiri terpilih menjadi Putri Runner-Up 1 2009 sekaligus bergelar Putri Lingkungan Hidup sedangkan Isti Ayu Pratiwi meraih Putri Runner-Up 2 2009 sekaligus menjadi Putri Pariwisata.

Tiga besar finalis tersebut dipilih oleh dewan juri PPI 2009 dari 38 finalis putri Indonesia dari 33 provinsi di seluruh Indonesia.

Sebelum memilih tiga besar finalis, dewan juri memilih 10 finalis dari jumlah awal sebanyak 38 finalis yaitu Qory Sandioriva (Aceh Darussalam), Zukhriatul Hafizah (Sumatera Barat), Sarinah Aria Putri (Sumatera Selatan), Natalie Pertiwi Hermanto (DKI-4), Coreana Agashi (DKI 6), Audrie Adriana Sanova (Banten), Maya Nita (Jawa Barat), Nadia Zahara (Jawa Timur), Isti Ayu Pratiwi (Maluku Utara), dan Tien Virginia Vanessa (Papua Barat).

Dari 10 finalis tersebut, kemudian dewan juri memilih 5 besar yaitu Qory Sandioriva (Aceh), Zukhriatul Hafizah (Sumatera Barat), Natalie Pertiwi Hermanto (DKI-4), Audrie Adriana Sanova (Banten), Isti Ayu Pratiwi (Maluku Utara).

Dari 38 finalis Putri Indonesia 2009 juga dipilih gelar Putri Berbakat PPI 2009 yang diraih finalis Jawa Barat Maya Nita, gelar Putri Persahabatan sekaligus gelar Putri Favorit diraih oleh finalis dari Papua Barat yaitu Tien Virginia Vanessa.

Juga dipilih tiga Putri Intelejensia yaitu finalis dari Jawa Timur Nadia Zahara, finalis dari DKI 4 Natalia Hermanto, dan finalis dari DKI 3 yaitu Feby Rizki Andita.
Selain itu, juga dipilih enam Putri Kepulauan Favorit PPI 2009 yaitu gelar Putri Kepulauan Jawa yang diraih finalis dari Banten, Audrie Adriana Sanova, gelar Putri Kepulauan Sumatera yang diraih oleh finalis dari Bangka Belitung, Survia.

Sementara gelar Putri Kepulauan Bali Nusra yang diraih oleh finalis dari Bali Ni Putu Sukmadewi Eka Utami dan gelar Putri Kepulauan Sulawesi yang diraih oleh finalis dari Sulawesi Utara, Anastasia M. Runtunuwu.

Begitu semaraknya acara pemilihan Putri tersebut, terlihat Miss Universe 2009 Stefania Fernandez, Menkominfo yang juga Menbudpar ad-interim Muhammad Nuh, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, mantan Menbudpar Jero Wacik, Mooryati Sudibyo, selain itu juga terlihat putri Indonesia tahun-tahun sebelumnya. Mereka ikut menikmati liukan indah para cewek-cewek cantik.

Tampil menghibur pada malam puncak PPI 2009 yang dipandu oleh Charles Bonar Sirait, Choky Sitohang, Putri Indonesia 2002 Melani Putria dan Putri Indonesia 2003 Dian Khrisna antara lain Christoper Abimanyu, Shanty dan d Masiv.

PPI 2009 yang digelar untuk ke-14 kalinya ini bertema 'Wujudkan prestasi dan kreativitasmu melalui karya serta integritas bagi Ibu Pertiwi.

Tanggapan dari Aceh
Saya mendapat SMS dari seorang yang menanyakan, ‘hai pue na meugah miss Indonesia 2009 dari Aceh di sinan?’ tanyanya. Saya sendiri urung membalas SMS itu. Begitu saya buka internet, ternyata beritanya sudah menyebar.
Hingga kini memang belum ada tanggapan dari Aceh. Padahal, biasanya setiap ada momen pasti heboh, apalagi soal pemilihan Putri Indonesia ini.

Lalu, apakah nantinya Qory akan diterima oleh masyarakat Aceh? Kita belum bisa menjawabnya sekarang, hal itu sangat tergantung bagaimana perilaku Qory ke depan
Jika dia ke Aceh tanpa menggunakan Jilbab, tentu saja akan mengundang polemik dan protes dari sejumlah kalangan yang peduli dengan penegakan Syariat Islam.

Bagaimana tanggapan Qory sendiri soal hal ini? Seperti dikutip Waspada Online, Qory menyatakan bahwa sejauh yang ia pahami, Islam tidaklah kaku dalam mewajibkan wanita untuk berjilbab. Islam tetap mengutamakan jilbab yang berasal dari hati, yaitu jilbab yang berasal dari kecerdasan pikiran dan kebaikan berprilaku.

“Yang saya ketahui dari agama Islam adalah, kepribadian yang luhur itu juga ditentukan dari brain (otak) dan behavior (prilaku), artinya, saya tidak harus memakai jilbab, tapi saya tetap harus menunjukkan kepribadian luhur di dalam Islam tersebut, jadi yang saya jilbabi adalah hati dan kepribadian saya,” papar Qory yang dijumpai Waspada Online.

Walau tidak berjilbab, Qory mengaku telah mendapat restu dari Pemerintah Aceh. Ia menyatakan bahwa Pemerintah Aceh tidak mempermasalahkan soal jilbab yang tidak dikenakannya, mereka hanya berpesan agar Qory tetap membawa nama baik Islam dan Aceh lewat kepribadiannya.

“Saya sudah berkonfirmasi dengan gubernur Aceh dan Sekretaris Daerah, mereka mengijinkan saya tidak memakai jilbab, dengan catatan saya harus bisa tetap membawa nama baik Aceh, dalam arti hubungan baik dengan sikap yang Islami,” tandasnya.
Kini, siap-siap menanti kejutan dari Qory selanjutnya, yaitu memakai Bikini di ajang Miss Universe.diolah dari sejumlah sumber

Read More......

Dari James Bond hingga Munas Golkar

Thursday, October 8, 2009

Selama tiga malam ini, saya jadi sulit tidur. Hal ini saya rasakan, setelah saya pulang cepat ke rumah begitu pekerjaan di kantor selesai. Awal bulan ini, jam kerja kami di kantor sudah berubah. Para redaktur harus masuk kerja lebih awal, jam tiga sore. Para wartawan baik di Banda Aceh maupun di daerah harus sudah menyetor berita ke redaksi paling telat jam 4 sore, kecuali berita insiden besar atau yang layak diprioritaskan untuk halaman satu, masih ditolerir hingga jam 10 malam. Perubahan jadwal tersebut, berarti kerja saya sudah cepat selesai dan cepat pulang pulang ke rumah.

Tapi, masalahnya, sudah dua malam ini saya pulang cepat, namun muncul masalah bahwa saya tidak bisa memejamkan mata. Sudah sejak dulu, saya tidur telat (lebih-lebih jika musim bola), dan biasanya baru bisa tidur jam 4 malam. Saya sudah menjelma sebagai lelaki penakluk malam. Malam yang seharusnya saya gunakan untuk tidur, malah saya gunakan untuk kerja dan bergadang. Sementara siang hari yang harusnya saya gunakan untuk bekerja, malah saya manfaatkan untuk tidur. Bagi saya, siang dan malam sudah ‘terbalik’, siang dalam kamus saya adalah malam, dan malam adalah siang.

Banyak kawan yang menasehati agar saya bisa mengatur jadwal dengan baik, tidur dengan cukup. Karena, kata mereka, jika saya kurang istirahat, saya berisiko jatuh sakit. Tapi, saran kawan saya itu belum bisa saya laksanakan. Meski saya merasa dan paham, bahwa kebiasaan saya itu hanya merugikan diri saya sendiri. Mudah-mudahan ke depan, pola hidup saya bisa berubah. Baik dalam hal istirahat, kerja, makan dan juga olahraga.

Dan Rabu (07/10) malam, semua pekerjaan kantor selesai saya kerjakan jam 20.00 WIB. Sementara selesai layout dan kalkir halaman jam 23.00 WIB. Tapi, saya tak langsung pulang ke rumah. Di kantor, saya menyempatkan diri menonton film yang boleh dibilang film zaman, James Bond, karena sudah sering kali diputar. Karena film action dan berhubungan dengan kerja-kerja spionase, saya sangat menyukainya. Oya, sebelumnya saya juga sempat menyaksikan Terminator, yang dimainkan Arnold yang kini jadi Gubernur California. Film ini juga tak bosan-bosannya untuk ditonton, dan tentu saja jadi film favorit bagi anak-anak. (Saya juga).

Tak hanya saya, banyak kawan-kawan di kantor juga ikut menontonnya, karena lagi lowong dari kerja. Meski mereka sudah sering menonton film ini, namun mereka sangat menikmati akting si James Bond, termasuk keberaniannya dalam melakukan penyamaran. Tentu saja, James Bond sudah melegenda. Channel tv tak pernah ditukar, kecuali pas sesi iklan, sambil memantau perkembangan Munas Partai Golkar di Kampar, Riau.

Sambil menunggu selesai print out dan kalkir halaman depan, kami masih betah menonton film dan sambil bercanda seperti biasa. Tiba-tiba ada informasi bahwa di Pidie terjadi perampokan bersenjata. Kebetulan informasi itu masuk ke Hp Pemred. Hp saya sendiri sudah sejak sore saya ganti dengan nomor lain, karena lagi tak mau terganggu dengan SMS dan juga telp. Bisa jadi kawan-kawan di Pidie sudah mencoba berulangkali menghubungi dan mengirim SMS. Saya sendiri tak tahu, karena hingga saya menulis posting ini, saya belum mengganti kartu dengan yang lama. Saya langsung telp ke Pidie untuk memastikan apakah benar ada insiden atau tidak. Ternyata, memang benar adanya upaya perampokan bersenjata api, di mana sang perampok menggunakan AK 56.

Saya minta wartawan piket untuk menghubungi wartawan Pidie menanyai bagaimana insiden yang sebenarnya, karena jika harus menunggu kiriman berita dari mereka banyak menghabiskan waktu, jadi lebih baik wawancara wartawan langsung dan beritanya dibuat di Banda Aceh ini. Lebih praktis dan juga cepat, karena perlu diburu waktu agar kalkir koran tidak lewat jam 24.00 karena akan berpengaruh terhadap distribusi koran ke daerah. Namun, setelah ditelp wartawan di Pidie, dia mengaku sedang melakukan konfirmasi termasuk menanyakan detail peristiwa dari aparat kepolisian. Jadi, terpaksalah menunggu. Ternyata, tak lama kemudian si wartawan langsung menelpon ke Banda Aceh, dan meminta agar beritanya langsung ditulis di Banda. Mulailah Juli Amin (wartawan piket) menulis berita berdasarkan keterangan dari wartawan di Pidie.

Yang membuat saya terkejut, insiden upaya perampokan bersenjata itu terjadi di Kecamatan saya, tepatnya di Desa Garut Bungong, Glumpang Baro, Pidie. Reaksi saya masih seperti biasa, tak menganggap sesuatu yang penting sedang terjadi. Saya masih asyik menonton perkembangan Munas Golkar, termasuk menonton film. Namun, saya menjadi terkejut setelah melihat print out halaman koran, dan memeriksanya. Saya baca headlines tentang insiden perampokan tersebut. Saya baca paragraf demi paragraf. Mata saya kemudian membaca sebuah nama, yang tak asing bagi saya. Langsung saya teriak, bahwa korban perampokan itu adalah saudara saya. Kawan-kawan di kantor pada terkejut dan tak percaya. Saya kemudian menelpon untuk memastikan. Ternyata benar yang jadi korban itu saudara saya (sepupu ayah saya). Karena masih trauma, dia pun memastikan siapa yang sedang menelpon. “Soe nyoe?” tanyanya, yang mengaku masih trauma. “Ini saya Taufik Trueng Campli,” jawab saya. Dia baru lega karena mengenali siapa yang sedang menelponnya. Dia pun kemudian bercerita kronologis perampokan.

“Perampok itu masuk lewat pintu belakang (kamar mandi) karena masih terbuka,” ceritanya. “Si perampok itu tak bisa masuk ke dalam, karena pintu dapur rumah tertutup,” sambungnya sambil menyebut perampok itu dua orang, satu memakai pakain jaket serba hitam, dan satu lagi bersembunyi.

Saya hanya mendengar saja. “Trus, bagaimana?” tanya saya.
“Mereka pura-pura hendak membeli rokok,” jawabnya. “Tapi, abang (suaminya, red) menjawab rokok sudah habis tak ada lagi dan minta agar membelinya di kios yang tak jauh dari rumah,” terangnya. Namun, lanjutnya, si perampok itu minta dibuka pintu.

Karena tak curiga, katanya, suaminya langsung membuka pintu. Dan…tiba-tiba moncong senjata AK 56 langsung diarahkan ke wajahnya. Suaminya, Alamsyah tak panik, entah pikiran apa yang merasukinya, senjata itu langsung dirampasnya dari tangan si perampok. Giliran perampok yang panik. Senjata itu berhasil dirampasnya setelah terlibat duel sengit. Diambil senjata itu dan langsung diayunkan ke arah perampok. Si perampok itu pun lari. Sementara istrinya dalam keadaan panik, masih sempat melempari kawan si perampok yang bersembunyi di lampoh (kebun) samping rumah dengan kelapa sambil berteriak ada perampok. Mereka pun lari ketakutan.

Suaminya juga ikut menghilang. Saudara saya itu jadi takut, apakah suaminya ikut dibawa perampok, karena sebelumnya sempat berdual. Apalagi, dia menemukan satu magazine AK 56 di belakangnya rumah, diperkirakan jatuh saat duel terjadi.

Ternyata, menurut ceritanya, suaminya lari ke blukoh (semacam balai tempat beristirahat) untuk memberitahukan sama orang kampung dan juga Keuchik. Tak lama kemudian, warga berdatangan, begitu juga aparat dari kepolisian Glumpang Baro.

Saudara saya itu, Salawati, mengaku masih trauma. Malam ini katanya tak bisa tidur. Saudara dekatnya diminta untuk tidur di rumah. Tak ada yang bisa saya sampaikan, kecuali memintanya tetap tenang dan hati-hati. Sebenarnya dia meminta agar kasus ini tak dimuat di koran, karena orang-orang akan bertanya banyak hal soal perampokan itu. Dia juga tak mau namanya masuk koran. Tapi, setelah saya beritahu bahwa perlu diberitakan agar tidak terulang kasus serupa pada orang lain, dia memakluminya. Saya kemudian memintanya untuk membeli Harian Aceh besok hari.

Duh, hanya satu hal yang saya ingat, bahwa jika saya mematikan Hp atau menggantinya dengan nomor rahasia yang tak diketahui orang lain, pasti terjadi insiden atau hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya pun kemudian larut dalam pikiran saya sendiri dan melanjutkan menonton acara Munas Golkar. Ternyata proses pemungutan suara untuk memilih ketua baru memakan waktu yang cukup lama. Bosan menunggunya. Karena tak ingin ketinggalan informasi, saya tetap menontonnya hingga usai, di mana dengan sesekali mengganti channel mencari acara yang bagus. Yang pasti, hasil Munas Golkar tetap saya tunggu, untuk mengetahui siapa Ketua Golkar pengganti Jusuf Kalla selanjutnya.

Untung saja, pihak Metro TV juga menyelipkan dialog dengan menghadirkan narasumber yang ‘kompeten’ untuk menganalisa soal pemilihan ketua baru dan juga arah politik partai Golkar ke depan, apakah akan jadi oposisi atau tetap jadi bagian dari pemerintah (koalisi). Pemateri yang dihadirkan adalah pengamat politik, Soegeng Soerjadi, Eep Saifullah Fattah dan Effendi Ghazali. Analisa-analisa mereka sangat tajam, sehingga menanti hasil pemungutan suara menjadi tak membosankan.


Akhirnya, tibalah saatnya pada penghitungan suara. Suara pertama, kedua, ketiga dan seterusnya dihitung. Abu Rizal Bakrie dan Surya Paloh saling kejar dan menyalip. Namun, seperti sudah diperhitungkan sebelumnya, Abu Rizal Bakrie akhirnya memenangkan pertarungan untuk memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Golkar lima tahun mendatang. Bisa diibaratkan, kejar-kejaran suara antara Abu Rizal Bakrie dan Surya Paloh seperti anjing yang mengejar kereta api. (Lagee asee let keurita apue). Meski sudah dikejar capek-capek dan tak henti, jika tiba di stasiun, kereta api pasti akan berhenti dengan sendirinya. Begitu juga dalam hal perolehan suara, meski terjadi kejar-kejaran, akhirnya Abu Rizal Bakrie tetap keluar sebagai pemenang, begitu semua suara selesai dihitung.

Ada komentar Eep Saifullah Fattah yang menarik untuk disimak oleh para kader Golkar, seusai dipastikan Abu Rizal Bakrie sebagai pemenang kursi Ketua Umum, bahwa kemenangannya jangan sampai berarti sebagai kemenangan partai Demokrat atau Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Semua tahu bahwa Abu Rizal hingga kini masih sebagai salah satu menteri dalam Kabinet SBY. Jangan sampai ke depan akan menggiring Golkar menjadi berkoalisi dengan pemerintah dengan meminta jatah menteri. Entahlah, saya tak menarik mengomentarinya...

Berikut perolehan suara Munas Golkar
Abu Rizal Bakrie: 297
Hutomo Mandala Putra: 0
Surya Paloh: 239
Yuddy Chrisnandi: 0

Foto:
1. Kapolsek Glumpang Baro bersama AK 56 yang digunakan perampok
2. Hasil perolehan suara Munas Golkar
NB: Inilah oleh-oleh bergadang. Semoga berkenan meski tulisannya tak sebagus judulnya. (hehehe)

Read More......